Ciletuh..i'm coming .....
Created by Aulia Maesa
Pagi
yang indah! Hari-hari melelahkan telah aku lalui selama semester ini. Berkutat
dengan buku dan soal-soal disetiap
malamnya, bangun subuh untuk kembali belajar dan menghafal, pulang petang dan
langsung mengerjakan tugas, seperti itulah rutinitasku. Tapi, seperti kata
pepatah, “hasil tidak akan mengkhianati
usaha.” Aku mendapat juara satu di
kelas. Itu membuatku senang dan bangga. Semua jerih payahku tak berakhir
sia-sia.
“Mama,
liburan kali ini kita akan pergi kemana?” Tanyaku pada Mama yang sedang
menyirami tanaman di halaman rumah.
“Liburan
kali ini keluarga besar kita akan pergi ke Pantai Geopark Ciletuh. Kita sudah
sepakat untuk liburan sekaligus tadabur alam, jangan selalu liburan keluar
kota, padahal di kota sendiripun belum tentu kita pernah mengunjunginya.” Jawab
Mama panjang lebar. Tapi aku tidak puas dengan jawaban Mama. Aku tidak ingin
pergi ke pantai selain panas dan membuat kulit gosong, aku ingin pergi keluar
kota dan berbelanja.
“Tapi
ma, di pantai kan panas, nanti kulitku gosong. Lagian Sashi ingin pergi keluar
kota dan berbelanja.” Rajukku kepada mama.
“Kamu
tahu, Pantai Geopark Ciletuh itu merupakan bla bla dan tempat wisata yang cocok
untuk melepas penat setelah selama satu
semester terus belajar, ya, ke pantai,” aku mengerucutkan bibir hendak protes,
tapi mama lebih dulu bebicara, “sudah tidak usah dipikirkan, nanti juga kamu
akan menikmatinya. Lusa kita berangkat, lebih baik kau menyiapkan barang-barang
yang akan dibawa nanti.” Ucap Mama sambil menghampiriku dan mengusap punggungku
memberikan ketenangan sehingga niatku untuk protes menguap entah kemana.
“Hm,
baiklah.” Aku berjalan lunglai memasuki rumah lalu membereskan barang-barang
seperti yang diinstruksikan oleh Mama. Aku tetap tidak ingin pergi ke pantai,
namun semua anggota keluarga besar akan ikut, tidak mungkin hanya aku saja yang
tidak ikut. Ah, aku benci pantai!
***
![]()
“Sashi,
sini bantu Mama membawa barang-barang ke bagasi.” Panggil Mamaku membuyarkan
lamunanku.
“Iya
Ma.” Akupun menghampiri Mama dan membantunya membawa barang-barang.
“Nanti
setelah sholat dzuhur kita berangkat.”
“Hmm.”
Ucapku malas.
“Kenapa
kamu? Mau jadi Nissa Sabyan hm hm hm?” Canda mamaku yang tidak aku tanggapi.
“Jangan muram gitu dong, ini kan liburan, harusnya kamu semangat, nikmati waktu
libur kamu, bawa enjoy aja, oke?”
“Iya.”
Jawabku sekenanya lalu masuk ke dalam rumah selepas membantu mama.
***
Matahari
sudah menduduki singgasananya, suara adzan dzuhur terdengar menenangkan dari
speaker masjid dekat rumah nenek. Kami semua menunaikan sholat dzuhur secara
berjamaah dengan suami kakaknya mama sebagai imam.
Selepas
menunaikan sholat, tiga rombongan mobil berangkat menuju Geopark Ciletuh.
Selama
perjalanan aku hanya diam sambil memainkan handphone dan mengabaikan
saudara-saudaraku yang sedang bercanda satu sama lain.
Macet
panjang dibawah terik matahari ini sungguh menyesakkan. Sudah bayak penjual
yang berlalu lalang melewati mobil kami dengan menawari berbagai macam makanan
dan minuman.
Salah
kami melewati jalan baru dihari libur seperti ini. Pasti banyak orang lain yang
ingin melewati jalan baru menuju ke Geopark Ciletuh juga.
Kami
sampai ditempat tujuan bersamaan dengan adzan magrib. Rasa lelah menyerang
tubuhku, rasanya sangat sulit untuk digerakkan.
“Sashi
bantu Mama angkat barang-barang kedalam.” Kami menginap di home stay bukan
hotel berbintang, kalau kata nenek supaya kita bisa lebih menikmati kesederhanaan.
“Iya
ma.” Jawabku segera membantu mama membawa barang-barang. Setelah itu kami semua
menunaikan ibadah sholat magrib berjamaah diruang tengah yang cukup luas.
Selepas sholat kami bergantian menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karena sudah malam dan perjalanan yang melelahkan kami memutuskan untuk
beristirahat saja malam ini, mengumpulkan energi untuk menikmati hari esok.
***
Matahari
masih malu-malu menampakkan dirinya dan kami sudah bersiap-siap untuk pergi
kepantai menyaksikan sunrise sekaligus olahraga pagi. Jarak dari homestay ke
pantai tidak terlalu jauh jadi kami tidak terlalu lelah berjalan.
Sesampainya
di pantai kami disambut pemandangan indah bak lukisan yang terpampang nyata.
Cahaya lembut menerpa wajah kami, suara desiran ombak dipagi hari yang sangat
menenangkan, dan udara dingin sekaligus hangat cahaya matahari begitu
menyegarkan, membuat kami lupa tujuan kami untuk berolahraga dan malam
berfoto-foto ria sembari bermain dengan ombak dipinggir pantai.
Sungguh
indah pemandangan di Geopark Ciletuh ini, benar kata Mama, tempat wisata ini
pantas menjadi salah satu tempat bla bla. Aku yang tadinya enggan pergi ke
pantai, jadi sangat bersemangat dan begitu menikmati waktuku sekarang. Aku
bermain bersama saudara-saudaraku yang lain dan menaiki bananabout. Aku bahkan
bermain di pantai selama 4 jam dari jam 6 pagi hingga jam 9. Itupun dipaksa
pulang oleh Mama karena sudah terlalu lama bermain. Dengan berat hati aku dan
saudara-saudaraku pulang menuju penginapan.
Setelah
membersihkan diri, aku dan saudara-saudaraku beristirahat dikamar masing-masing
hingga saat adzan dzuhur berkumandang, kami sholat berjamaah lalu disuruh
bersiap-siap untuk pergi krluar.
“Mama,
kita mau pergi kemana?” Tanyaku pada Mama setelah sholat.
“Kamu
tahu, di sekitar Ciletuh ini banyak curug yang mengelilinginya. Kita akan pergi
kesana sekarang.” Jawab Mamaku.
Aku
hanya ber-oh ria lalu ersiap-siap untuk pergi.
***
Curug
pertama yang kami datangi yaitu Curug Cikanteh. Lalu Curug Sodong dan Curug
Cimarinjung. Setelah itu kami peri ke Puncak Darma sebagai tempat terakhir yang
kami kunjungi, dari ketinggian kami bisa melihat dengan jelas laut yang
membentang dan curug-curug yang mengelilinginya. Sejuk udara sore beserta ramahnya
orang-orang disini membuatku nyaman berada disini, kami meminum es kelapa yang
segar sambil memandangi alam.
Karena
sudah sore, kami pul pulang ke penginapan. Walaupun kami tdiak bisa menapakkan
kaki ke semua curug, tapi sungguh sangat menyenangkan bisa melihat secara
langsung air terjun dan merasakkan sejknya angin yang ditimbulkan tubrukan air
terjun dengan air yang dibawahnya.
Pada
malam hari, kami sekeluarga membakar ikan di depan penginapan. Menghabiskan
waktu dengan berbincang-bincang dan canda tawa. Tak terasa hari sudah semakin
larut, makananpun sudah habis. Kami memutuskan untuk beristirahat setelah
menjalani hari yang panjang.
***
Ini
adalah hari terakhirku di Ciletuh, aku masih ingin pergi mengelilingi curug
yang tak sempat aku datangi. Pemikiranku salah tentang semua pantai sama saja.
Ciletuh ini berbeda, unik. Pantas saja masuk dalam daftar Unesco.
Setelah
sarapan, aku membereskan barang-barangku dan menaruhnya di bagasi mobil. Baru
pertama kali aku merasakan perasaan ini, bangga dan bahagia bisa tinggal di
Kabupaten Sukabumi. Aku sekarang sadar ternyata tempat kelahiranku ini sungguh
luar biasa. Aku saja yang tidak bersyukur dan memandang sebelah mata.
Kedepannya
aku akan lebih bersyukur dan mengenali
tempat kelahiranku yang sangat luar biasa ini. Dan lain kali, jika ada
kesempatan aku ingin kembali berlibur di Ciletuh dan mengunjungi semua curug
yang ada disana.