Kesempatan
Aku
menyandarkan tubuh lelah dikursi.
Setelah merapikan kamar dan
buku-buku untuk sekolah besok, aku memutuskan untuk tidur. Membayangkan
bagaimana hari esok akan berjalan, apakah takdir akan berpihak padaku? Atau
tidak? Tanpa disadari mataku menutup tersapu lelahnya tubuh ini.
Pagipun
datang, sang raja pagi mulai memancarkan sinarnya, membangunkanku dari tidur
yang lelap. Aku segera bergegas menuju kamar mandi, bersiap untuk pergi ke
sekolah setelah libur akhir semester. Aku akan bertemu teman baru di kelas yang
baru juga, memikirkannya membuatku semakin bersemangat.
Setelah
mandi dan berpakaian, aku sarapan bersama ibuku. Ayah sudah berangkat pagi
sekali untuk bekerja. Keluargaku adalah keluarga yang sederhana, ibuku bekerja
sebagai guru TK dan ayahku bekerja sebagai buruh di pabrik. Aku tidak pernah
mengeluh akan takdir ini karena bagaimanapun juga mereka tetaplah orangtuaku,
mereka yang merawatku penuh kasih hingga sekarang ini. Sebelum berangkat
sekolah, aku menyalami tangan ibuku dan tak lupa meminta doa nya agar semua
berjalan dengan lancar.
***
Derum
setiap kendaraan terdengar sahut-menyahut, lautan pejalan kaki memenuhi jalan
setapak. Hingar bingar kesibukkan pagi hari selalu kurasakan setiap berangkat
sekolah. Setelah dua puluh lima menit naik angkutan umum, aku sampai di sekolah
dan langsung pergi menuju kelas baruku. Ternyata situasi di kelas sudah ramai.
Aku mencari tempat duduk yang kosong hingga sebuah tangan memegang bahuku.
“Kau sedang
mencari tempat duduk?” ujar perempuan berparas cantik itu kepadaku.
“Ah, iya. Aku
bingung mau duduk dimana” jawabku.
“Kalau begitu,
kau mau duduk denganku?” ajaknya.
“Apa tidak
apa-apa?” tanyaku ragu.
“Ya, tentu
saja” akupun bergabung bersama perempuan yang mengajakku tadi.
`“Ngomong-ngomong,
perkenalkan namaku Sinta” ujarnya sambil mengulurkan tangan.
“Namaku Nurul”
kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya.
***
Hari
demi haripun terlewati, tak terasa sudah hampir satu bulan aku berada di kelas
baru ini. Aku dengan Sinta pun semakin dekat. Dia orang ceria yang berasal dari
kalangan keluarga berada. Aku sering
diajak Sinta main ke kota, aku tidak bisa menolak karena Sinta orang yang
kukuh, apa yang ia inginkan harus terlaksana.
Lama kelamaan
akupun terbiasa dan mulai terbawa arus
kehidupan Sinta. Sinta selalu menceritakan tentang ia yang membeli pakaian trend terkini, aku menjadi iri dan ingin
membeli juga. Sinta menceritakan tentang idol
Korea yang ia suka, akupun menjadi suka idol
Korea. Bahkan sekarang aku sudah seperti orang baru. Biasanya, aku
berpakaian rapi dan tertutup. Sekarang pakaian yang sering aku pakai adalah
pakaian ala-ala Korea yang terbuka. Aku
tak mau ketinggalan dari Sinta, maka dari itu aku sering meminta dibelikan baju
baru dan merchandise kpop terbaru
kepada orangtuaku, aku akan terus memaksa hingga apa yang aku inginkan
terlaksana. Hingga Sinta memberitahu bahwa ia akan menonton konser idol Korea yang diadakan di Indonesia,
aku juga ingin menontonnya! Harus! Akupun memberi tahu tentang konser tersebut
kepada ibuku.
“Ibu, aku
ingin pergi ke konser bu” ucapku.
“Buat apa
pergi ke konser, kan masih bisa dilihat di tv”
“Ga mau bu,
aku maunya pergi ke konser, Sinta juga ikut nonton bu, masa aku ngga” kesalku.
“Bayar
konserkan mahal, Nak. Ibu ga mampu untuk bayar uang konser itu”
“Ga mau tahu,
pokoknya aku mau nonton konser, gimanapun caranya aku mau nonton konser!”
seruku kepada ibu dan langsung pergi ke kamar.
Ibu
yang melihatku seperti itu hanya menatap sendu. Orangtua mana yang enggan membahagiakan
anaknya?
***
Burung
berkicau, mentari bersinar menyinari seluruh permukaan bumi, tetapi tidak
dengan hatiku. Esoknya berjalan seperti biasa. Setelah sarapan aku langsung
pergi ke sekolah tanpa menyalami ibuku, aku masih kesal karena kejadian
kemarin.
Sepulang
sekolah, aku langsung pulang dan masuk kamar. Di sekolah, Sinta terus saja
membicarakan tentang konser, aku makin kesal karena ibu yang tak mau membayar
tiket konser. Aku pergi ke dapur untuk mengambil minum, namun di dapur, aku
melihat ibu yang tergeletak di bawah dan piring pecah di sampingnya. Aku kaget
bukan main. Langsung ku panggil ambulance untuk membawa ibuku ke rumah sakit.
Kata dokter, ibuku hanya kelelahan. Jadi setelah siuman, ibu boleh puang ke
rumah, namun ibu harus istirahat total.
***
Sepulang
dari rumah sakit, ayah menyuruhku untuk menjaga ibu di rumah karena ayah harus
pergi bekerja. Aku kesal karena hari ini sekolah libur, seharusnya aku pergi
bermain, bukan menjaga ibu dirumah. Akupun meng-iya-kan semua ucapan ayah.
Siangnya, Sinta menelponku. Ia mengajakku pergi ke kota, tapi aku tak bisa, aku
tidak menceritakan bahwa ibuku sedang sakit. Bukan Sinta namanya jika segala yang
ia inginkan tak terlaksana, ia datang ke rumahku dan mengajakku pergi ke kota,
aku tak bisa menolak. Akhirnya aku pergi ke kota, meninggalkan ibu sendiri di
rumah.
Aku
pulang dari kota jam delapan malam, ini rekor temalam aku pulang main bersama
teman. Aku langsung pergi ke kamar ibuku untuk melihat apakah ia baik-baik saja
atau tidak. Tapi tidak ada siapa siapa di kamar. Aku mengelilingi semua ruangan
di rumah ini, ibu tetap tidak ada. Aku panik. Aku ingin menelpon ayah, tapi aku
takut dimarahi. Oh, aku ingat, barangkali ibu sedang di toilet, aku pergi ke
toilet dan menemukan ibu yang tergeletak di bawah dengan darah yang mengucur
dari dahinya. Aku panik bukan kepalang, aku teriak bagai kesurupan memanggil-manggil
ibuku, tapi ia tak kunjung sadar. Aku langsung berlari menelepon ambulance. Aku takut. Aku takut
kehilangan sumber kebahagiaanku. Bulir bening di mataku tak bisa dibendung, aku
biarkan mengalir bak sungai membasahi pipiku. Tak lama, ambulance datang membawa ibuku ke rumah sakit. Di perjalanan aku
menelepon ayahku dan memberitahu tentang kejadian ini, tak ada suara disebrang
sana, hening, hingga sambungan terputus. Aku yakin ayah tak kalah paniknya
dengan diriku.
***
Pintu
kaca dengan garis tengah bertuliskan UGD, kursi yang berjejer di samping
tembok, dan aroma yang menguak ciri khas rumah sakit. Sekarang, ibu sedang
berada di ruang oprasi. Aku dan ayah sedang menunggu, berharap-harap cemas.
Hingga dokter keluar dari ruang oprasi dan mengatakan kalau ibuku masih bisa
tertolong. Selebihnya aku tidak mendengarkan, yang penting ibu selamat, itu
yang ada dipikiranku.
Ibu
dipindahkan ke ruang rawat inap. Tidak ada yang berbicara, baik aku ataupun
ayah. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga tak lama kemudian, ibu
sadar. Aku dan ayah langsung mendekati ibu. Ibu melihat aku dan tersenyum.
Melihat senyuman manis ibu, aku merasa tertampar atas semua yang terjadi. Akupun
menangis dan memeluk ibu, tak henti-hentinya aku mengucapkan maaf. Aku merasa
menjadi anak yang paling durhaka di dunia ini. Namun ibu hanya tersenyum dan
memaafkanku begitu saja. Akupun berjaji kepada ibu, bahwa aku tidak akan
mengulanginya lagi.
Setelah
kejadian itu, hidupku kembali normal. Aku kembali menjadi Nurul yang sederhana
dan berusaha membahagiakan orangtuaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar