Jumat, 04 September 2020

short story created by aulia

 

Kesempatan

 

                Aku menyandarkan tubuh lelah dikursi.

Setelah merapikan kamar dan buku-buku untuk sekolah besok, aku memutuskan untuk tidur. Membayangkan bagaimana hari esok akan berjalan, apakah takdir akan berpihak padaku? Atau tidak? Tanpa disadari mataku menutup tersapu lelahnya tubuh ini.

                Pagipun datang, sang raja pagi mulai memancarkan sinarnya, membangunkanku dari tidur yang lelap. Aku segera bergegas menuju kamar mandi, bersiap untuk pergi ke sekolah setelah libur akhir semester. Aku akan bertemu teman baru di kelas yang baru juga, memikirkannya membuatku semakin bersemangat.

                Setelah mandi dan berpakaian, aku sarapan bersama ibuku. Ayah sudah berangkat pagi sekali untuk bekerja. Keluargaku adalah keluarga yang sederhana, ibuku bekerja sebagai guru TK dan ayahku bekerja sebagai buruh di pabrik. Aku tidak pernah mengeluh akan takdir ini karena bagaimanapun juga mereka tetaplah orangtuaku, mereka yang merawatku penuh kasih hingga sekarang ini. Sebelum berangkat sekolah, aku menyalami tangan ibuku dan tak lupa meminta doa nya agar semua berjalan dengan lancar.

***

                Derum setiap kendaraan terdengar sahut-menyahut, lautan pejalan kaki memenuhi jalan setapak. Hingar bingar kesibukkan pagi hari selalu kurasakan setiap berangkat sekolah. Setelah dua puluh lima menit naik angkutan umum, aku sampai di sekolah dan langsung pergi menuju kelas baruku. Ternyata situasi di kelas sudah ramai. Aku mencari tempat duduk yang kosong hingga sebuah tangan memegang bahuku.

“Kau sedang mencari tempat duduk?” ujar perempuan berparas cantik itu kepadaku.

“Ah, iya. Aku bingung mau duduk dimana” jawabku.

“Kalau begitu, kau mau duduk denganku?” ajaknya.

“Apa tidak apa-apa?” tanyaku ragu.

“Ya, tentu saja” akupun bergabung bersama perempuan yang mengajakku tadi.

`“Ngomong-ngomong, perkenalkan namaku Sinta” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

“Namaku Nurul” kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya.

***

                Hari demi haripun terlewati, tak terasa sudah hampir satu bulan aku berada di kelas baru ini. Aku dengan Sinta pun semakin dekat. Dia orang ceria yang berasal dari kalangan keluarga  berada. Aku sering diajak Sinta main ke kota, aku tidak bisa menolak karena Sinta orang yang kukuh, apa yang ia inginkan harus terlaksana.

Lama kelamaan akupun terbiasa dan mulai terbawa  arus kehidupan Sinta. Sinta selalu menceritakan tentang ia yang membeli pakaian trend terkini, aku menjadi iri dan ingin membeli juga. Sinta menceritakan tentang idol Korea yang ia suka, akupun menjadi suka idol Korea. Bahkan sekarang aku sudah seperti orang baru. Biasanya, aku berpakaian rapi dan tertutup. Sekarang pakaian yang sering aku pakai adalah pakaian ala-ala Korea  yang terbuka. Aku tak mau ketinggalan dari Sinta, maka dari itu aku sering meminta dibelikan baju baru dan merchandise kpop terbaru kepada orangtuaku, aku akan terus memaksa hingga apa yang aku inginkan terlaksana. Hingga Sinta memberitahu bahwa ia akan menonton konser idol Korea yang diadakan di Indonesia, aku juga ingin menontonnya! Harus! Akupun memberi tahu tentang konser tersebut kepada ibuku.

“Ibu, aku ingin pergi ke konser bu” ucapku.

“Buat apa pergi ke konser, kan masih bisa dilihat di tv”

“Ga mau bu, aku maunya pergi ke konser, Sinta juga ikut nonton bu, masa aku ngga” kesalku.

“Bayar konserkan mahal, Nak. Ibu ga mampu untuk bayar uang konser itu”

“Ga mau tahu, pokoknya aku mau nonton konser, gimanapun caranya aku mau nonton konser!” seruku kepada ibu dan langsung pergi ke kamar.

                Ibu yang melihatku seperti itu hanya menatap sendu. Orangtua mana yang enggan membahagiakan anaknya?

***

                Burung berkicau, mentari bersinar menyinari seluruh permukaan bumi, tetapi tidak dengan hatiku. Esoknya berjalan seperti biasa. Setelah sarapan aku langsung pergi ke sekolah tanpa menyalami ibuku, aku masih kesal karena kejadian kemarin.

                Sepulang sekolah, aku langsung pulang dan masuk kamar. Di sekolah, Sinta terus saja membicarakan tentang konser, aku makin kesal karena ibu yang tak mau membayar tiket konser. Aku pergi ke dapur untuk mengambil minum, namun di dapur, aku melihat ibu yang tergeletak di bawah dan piring pecah di sampingnya. Aku kaget bukan main. Langsung ku panggil ambulance untuk membawa ibuku ke rumah sakit. Kata dokter, ibuku hanya kelelahan. Jadi setelah siuman, ibu boleh puang ke rumah, namun ibu harus istirahat total.

***

                Sepulang dari rumah sakit, ayah menyuruhku untuk menjaga ibu di rumah karena ayah harus pergi bekerja. Aku kesal karena hari ini sekolah libur, seharusnya aku pergi bermain, bukan menjaga ibu dirumah. Akupun meng-iya-kan semua ucapan ayah. Siangnya, Sinta menelponku. Ia mengajakku pergi ke kota, tapi aku tak bisa, aku tidak menceritakan bahwa ibuku sedang sakit. Bukan Sinta namanya jika segala yang ia inginkan tak terlaksana, ia datang ke rumahku dan mengajakku pergi ke kota, aku tak bisa menolak. Akhirnya aku pergi ke kota, meninggalkan ibu sendiri di rumah.

                Aku pulang dari kota jam delapan malam, ini rekor temalam aku pulang main bersama teman. Aku langsung pergi ke kamar ibuku untuk melihat apakah ia baik-baik saja atau tidak. Tapi tidak ada siapa siapa di kamar. Aku mengelilingi semua ruangan di rumah ini, ibu tetap tidak ada. Aku panik. Aku ingin menelpon ayah, tapi aku takut dimarahi. Oh, aku ingat, barangkali ibu sedang di toilet, aku pergi ke toilet dan menemukan ibu yang tergeletak di bawah dengan darah yang mengucur dari dahinya. Aku panik bukan kepalang, aku teriak bagai kesurupan memanggil-manggil ibuku, tapi ia tak kunjung sadar. Aku langsung berlari menelepon ambulance. Aku takut. Aku takut kehilangan sumber kebahagiaanku. Bulir bening di mataku tak bisa dibendung, aku biarkan mengalir bak sungai membasahi pipiku. Tak lama, ambulance datang membawa ibuku ke rumah sakit. Di perjalanan aku menelepon ayahku dan memberitahu tentang kejadian ini, tak ada suara disebrang sana, hening, hingga sambungan terputus. Aku yakin ayah tak kalah paniknya dengan diriku.

***

                Pintu kaca dengan garis tengah bertuliskan UGD, kursi yang berjejer di samping tembok, dan aroma yang menguak ciri khas rumah sakit. Sekarang, ibu sedang berada di ruang oprasi. Aku dan ayah sedang menunggu, berharap-harap cemas. Hingga dokter keluar dari ruang oprasi dan mengatakan kalau ibuku masih bisa tertolong. Selebihnya aku tidak mendengarkan, yang penting ibu selamat, itu yang ada dipikiranku.

                Ibu dipindahkan ke ruang rawat inap. Tidak ada yang berbicara, baik aku ataupun ayah. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga tak lama kemudian, ibu sadar. Aku dan ayah langsung mendekati ibu. Ibu melihat aku dan tersenyum. Melihat senyuman manis ibu, aku merasa tertampar atas semua yang terjadi. Akupun menangis dan memeluk ibu, tak henti-hentinya aku mengucapkan maaf. Aku merasa menjadi anak yang paling durhaka di dunia ini. Namun ibu hanya tersenyum dan memaafkanku begitu saja. Akupun berjaji kepada ibu, bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi.

                Setelah kejadian itu, hidupku kembali normal. Aku kembali menjadi Nurul yang sederhana dan berusaha membahagiakan orangtuaku.

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar